Ini Dunia Nyata Kita :)

 Teman-teman budiman kabar bagaimana ini hari? 


Semua orang berhak untuk menyerah atas apapun yang sedang dialaminya. Kita nggak boleh memaksa orang lain untuk terus (berpura-pura) kuat dan tetap bertahan. Begitupun orang lain, nggak ada yang punya hak untuk mengatur kemana arah langkah yang akan kita pilih dan tempuh selanjutnya. Semua orang punya tempo masing-masing. Jangan saling memaksa, nggak bisa. Terus membandingkan bakalan cuma ngebikin diri kita sendiri makin terpuruk dan berlarut-larut dalam masalah yang kita buat besar karena kekecewaan kita sendiri.


Hari ini kita benar-benar jatuh, lumpuh, nggak bisa bangkit berdiri lagi. Jangankan berdiri, duduk aja udah nggak sanggup lagi. 


Ketika kita mencoba merangkak, orang-orang diluar sana memerhatikan kita, dengan senyum mengembang—nggak, mereka nggak melecehkan kita. Justru mereka tulus tersenyum, mereka bertumpu sama kita, bersandar ke pundak kita. Kita adalah orang yang mereka andalkan. Lantas bagaimana kalau kita jatuh? Siapa yang akan menjadi tempat bersandar bagi mereka kemudian?


Persetan dengan itu semua. Kita mau berhenti dan menyerah yaudah kita lakuin, karena kita punya hak spesial terhadap diri kita sendiri. Nggak boleh ada yang mencampuri!


Pasti mulai terpikir hal-hal seperti itu.


Kalau nggak, ternyata kamu orang yang super baik. Bagus.


Langit rasanya runtuh setiap hari, setiap kali satu demi satu kegagalan jatuh tepat di depan kedua mata kita. Selesai. Rasanya semuanya harus diakhiri saat itu juga. Kita mulai menyalahkan keadaan. Kegagalan yang jatuh di depan mata dibarengi derai air yang terjatuh dari kedua mata. Saling melengkapi, dan hati kita makin teriris menyadarinya.


Retikulum endoplasma halus di hati kita bahkan nggak bisa membantu menepis segala 'racun' yang menyebar ke seluruh tubuh kita hari ini. Racun yang lebih berbahaya daripada sianida yang menghambat pembentukan energi dalam sel, menyebabkan sel mati. Ini bukan cuma satu sel, keseluruhan diri kita sebagai suatu organisme juga rasanya mau mati aja. Dunia seolah nggak pernah sudi berpihak sama kita. Dunia jahat, maunya lihat drama melankolis yang bagus setiap hari, dengan menjadikan kita sebagai protagonis yang selalu menampilkan tangisan dan keputusasaan setiap hari. Tanpa ada bosan-bosannya, terus diulang hingga kita sebagai aktor kelelahan, dan mati perlahan.


Kita nggak tahu, dunia lebih suka drama happy ending atau sad ending. Rasa-rasanya kita selalu diarahkan menuju pilihan kedua. Pilu, tetapi itulah adanya. (Oh, please, pikiran kita sedang kacau bukan? Meracau hal-hal nggak jelas boleh nggak sih? Seenggaknya untuk diri sendiri? Boleh! Asalkan kita bisa mengakomodirnya dengan baik, dan nggak merugikan siapapun!)


Sebagian orang mungkin berpikir bahwa orang lain terlalu maniak memikirkan prasangka buruk terhadap dunia ini. Ya, orang yang tengah berada di roda atas kehidupan akan mengatakan hal yang demikian. Namun nanti ketika ia berada di bawah, maka hal yang ia lakukan juga nggak akan beda jauh dengan apa yang kita lakukan hari ini.


Menangis, menyesal, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, marah, kecewa, segalanya. Sengaja dicampur-campur begitu biar apa?! Dipikir perasaan manusia itu bisa cosplay jadi produk n4n0-n4n0 yang rame rasanya?!


Nggak capek apa, marah-marah melulu sama kehidupan?


Capek. Tapi mau gimana lagi? Nyebelin. Setiap hari selalu begini. Apapun yang kita lakuin nggak ada yang benar. Rasanya kita sudah berjuang sampai ke titik darah penghabisan, tapi mana hasilnya? Katanya usaha nggak akan menghianati hasil? Heh, siapa yang berani bilang begitu pertama kali sih? Sini, kita temui rame-rame. Bukan mau demo, mau minta diajari dan diperjelas, harus sekeras apa kita berjuang supaya kita bisa tersenyum di akhir drama hari ini? Harus secerdas apa kerja yang kita lakukan setiap hari?


Well, apapun yang terjadi hari ini, semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita nggak bakal bisa memutar balik waktu dan meminta hal yang lebih baik untuk terjadi di waktu hal-hal buruk barusan terjadi kepada kita. Nggak mungkin. Diantara banyaknya kemungkinan di dunia ini, hal-hal yang nggak mungkin relatif sedikit, tapi efeknya besar sekali untuk kehidupan kita. Dan sesuatu yang berefek besar itu susah kita dapatkan dengan mental yang tukang marah-marah dan kecewa dengan kehidupan ini. 


Mental kita?


Bukan.


Kita 'kan nggak lagi marah-marah, hanya sedang jujur saja mengenai isi hati dan pikiran kita hari ini. Habisnya, prasangka negatif muncul melulu setelah datangnya persitiwa yang tidak mengenakkan. Apakah salah jika kita mengungkapkannya? Nggak, nggak salah.


Asalkan, setelah itu kita harus bangun lagi, bangkit lagi. Entah seberapa banyak luka yang harus berusaha kita sembuhkan atau setidaknya kita tutupi di kemudian hari, tapi orang lain nggak boleh melihat kita jadi orang yang lemah. Kita masih mampu menapaki dunia bersama mereka, apapun yang terjadi.


Hari ini kalau semuanya terasa memberatkan, segalanya terasa menyudutkan, semua mata tertuju ke arah kita seolah berkata, "sudah saatnya kamu hengkang, sayang," jangan pedulikan! Hari ini perasaan kita diaduk-aduk secara brutal untuk entah keberapa kalinya. Kita memang sedang berada di bawah, akui saja itu. Namun suatu saat kita juga pasti bisa berada di atas, tertawa bersama orang-orang yang berada di atas. Kita pasti sungguh mendambanya bukan?


Ingat satu hal, suatu saat ketika kita berada di atas, jangan pernah membunuh mental orang-orang yang berada di bawah. Rangkul mereka, kita semua sama, homo sapiens yang juga homo sosius. Kita juga homo humanis, berkebudayaan. Budaya kita adalah saling menghargai, jadi jangan pernah kita lepas budaya itu.


Hari ini kita boleh runtuh, tetapi setelah puas sekalian memporak-porandakan segalanya, kita harus menyatukan tiap puing-puing kembali dengan hati-hati, membentuk sebuah kastil yang meskipun retak, tetapi mampu membuat kita bertahan menghadapi hari-hari berikutnya.


Jangan patah semangat—setidaknya berpura-puralah merasa bahwa—kita tidak pernah berjalan sendirian.


Ini dunia ... nyata.


Sampai jumpa lagi. Happy reading!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Run, Run, Run! Pesawat Hampir Lepas Landas!

Ospek Tiga Lapis?!—Ilmu Gizi UNSOED

Teknik Kesabaran Dalam Presentasi -Cheoum Buteo Series-